KABUPATEN BEKASI | Koranmegapolitan.co.id – Penguatan data kemiskinan dan kolaborasi lintas sektor menjadi fokus inovasi yang diusung Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Bekasi dalam ajang ASN Berprestasi Tingkat Provinsi Jawa Barat 2026. Melalui dua program unggulan, Fadly Marissatrio, S.E., M.IP., berhasil melaju ke tahap visitasi lapangan dalam kompetisi tersebut.
Fadly yang menjabat Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Bappeda Kabupaten Bekasi membawa dua inovasi, yakni Sistem Informasi Pengentasan Kemiskinan dan Percepatan Pembangunan (Sregep Bang!) serta Kolaborasi Aksi Pentahelix Kabupaten Bekasi (Kapak Bekasi).
Kedua inovasi tersebut dirancang untuk memperkuat penanganan kemiskinan melalui pemanfaatan data yang lebih terperinci dan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan. Dengan pendekatan ini, pemerintah daerah diharapkan dapat menyusun program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekaligus memperluas dukungan di luar anggaran pemerintah.
Fadly menjelaskan, visitasi lapangan merupakan tahap ketiga dalam proses seleksi ASN Berprestasi yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Sebelum mencapai tahap tersebut, peserta terlebih dahulu melewati seleksi proposal, penyusunan makalah inovasi, dan wawancara di kantor Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Jawa Barat.
“Alhamdulillah, saya dan beberapa rekan sudah sampai pada tahap visitasi lapangan. Sebelumnya ada proses seleksi proposal dan konsep inovasi, kemudian wawancara di kantor BKD Jawa Barat. Dari tahapan tersebut, kami berhasil masuk ke tahap ketiga,” ujar Fadly.
Pada tahap visitasi, tim penilai menelaah implementasi inovasi, kelengkapan data pendukung, serta dampak yang dihasilkan. Untuk memperlihatkan penerapan program, Fadly melibatkan sejumlah pemangku kepentingan dari unsur pemerintah, perusahaan, perguruan tinggi, media, dan masyarakat.
Sregep Bang! Perkuat Akurasi Data Kemiskinan
Salah satu inovasi yang dipresentasikan, Sregep Bang!, merupakan sistem informasi yang membantu pemerintah mengidentifikasi dan memetakan kondisi masyarakat miskin secara lebih spesifik. Informasi yang tersedia dapat digunakan untuk melihat karakteristik warga berdasarkan kondisi tempat tinggal, sanitasi, kelompok usia, hingga jenis kelamin.
Melalui pemetaan tersebut, pemerintah dapat mengetahui kebutuhan masyarakat secara lebih terarah. Misalnya, data dapat menunjukkan warga yang tinggal di rumah berdinding kayu, memiliki lantai tanah, atau belum mempunyai fasilitas septic tank.
Informasi itu selanjutnya dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan sasaran bantuan maupun program intervensi sesuai kondisi warga. Dengan demikian, kebijakan penanggulangan kemiskinan diharapkan tidak hanya mengacu pada jumlah penduduk miskin, tetapi juga mempertimbangkan persoalan konkret yang dihadapi setiap kelompok masyarakat.
“Melalui Sregep Bang!, data kemiskinan bisa difilter berdasarkan kondisi masyarakat. Dengan begitu, pemerintah dapat mengetahui kebutuhan warga secara lebih spesifik dan memastikan program yang diberikan tepat sasaran,” jelasnya.
Kapak Bekasi Dorong Kolaborasi Pentahelix
Selain penguatan data, Bappeda Kabupaten Bekasi mengembangkan Kapak Bekasi sebagai wadah kolaborasi untuk mendukung percepatan penanggulangan kemiskinan. Inovasi ini mengedepankan pendekatan pentahelix yang melibatkan lima unsur, yakni pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, media, dan masyarakat.
Menurut Fadly, persoalan kemiskinan tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan program dan pembiayaan pemerintah. Dukungan dari berbagai pihak dibutuhkan agar intervensi yang dilakukan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat dan memberikan manfaat sesuai kebutuhan.
Dunia usaha, misalnya, dapat berkontribusi melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR). Perguruan tinggi dapat mengambil peran melalui penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta kuliah kerja nyata (KKN) tematik.
Sementara itu, masyarakat dapat terlibat melalui komunitas dan forum sosial. Adapun media berperan menyebarluaskan informasi serta edukasi, termasuk terkait penanganan stunting, informasi lowongan pekerjaan, dan program pelatihan keterampilan.
“Pengentasan kemiskinan tidak cukup hanya mengandalkan anggaran pemerintah. Harus ada keterlibatan perusahaan, perguruan tinggi, masyarakat, dan media. Semua unsur ini perlu bergerak bersama agar masyarakat memiliki kesempatan untuk keluar dari garis kemiskinan,” katanya.
Fadly menambahkan, Sregep Bang! dan Kapak Bekasi saling mendukung dalam pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan di Kabupaten Bekasi. Data yang lebih terperinci dapat menjadi dasar untuk menentukan kebutuhan intervensi, sedangkan kolaborasi lintas sektor membuka peluang dukungan sumber daya dan pelaksanaan program yang lebih luas.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa penurunan angka kemiskinan merupakan hasil kerja bersama melalui berbagai program dan rencana aksi perangkat daerah. Inovasi Bappeda menjadi salah satu upaya untuk memperkuat pelaksanaan program tersebut.
Setelah visitasi lapangan, peserta yang lolos akan melanjutkan kompetisi ke tahap keempat, yakni adu gagasan. Pada tahapan ini, para kandidat akan memaparkan sekaligus mempertahankan gagasan inovasi di hadapan tim penilai.
Fadly berharap Kabupaten Bekasi dapat meraih hasil terbaik dalam kompetisi tingkat provinsi tersebut. Ia menyebutkan, terdapat tiga kandidat dari Kabupaten Bekasi yang berhasil mencapai tahap ketiga, terdiri atas satu kandidat dari jabatan administrator dan dua kandidat dari jabatan pengawas.
Lebih dari sekadar mengejar penghargaan, Fadly berharap ajang ASN Berprestasi dapat mendorong peningkatan kompetensi, kreativitas, dan motivasi aparatur di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bekasi.
“Harapannya, Kabupaten Bekasi bisa menjadi juara di setiap kategori. Namun, yang tidak kalah penting, ajang ini dapat memacu motivasi seluruh ASN, bukan hanya pejabat struktural, tetapi juga staf. Bahkan, kesempatan ini terbuka hingga pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK),” pungkasnya.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!